You Can Only Want So Much

You can do silly things when you’re in love. Even dream of crazy things of wanting to be something else.

Oh, those times. Those times.

 

Nope, it isn’t me. I am not the one in love.

It is one dear friend of mine. She sent me a screen capture of a facebook post and texted, “He’s back.” The picture was a collage. The first one was the ‘he’ with a few friends sitting in an Asian  restaurant. The second one was the arrangement of the table when they feast on the meal.

But on the second picture, there were two hands side by side that each wore rings. That his friend commented: “I saw two people wearing rings, I thought you were engaged.”

And he replied to the comment: “hahahaha, nope…. I’m just engaged to Wagyu Beef.”

 

The next day, I met my friend. We continued on the topic of him. She seemed torn that apparently, he has not yet contacted her of his return.

She told me with a heavy sigh, so heavy it could move mountains. “I want to be Wagyu Beef.”

I swear I burst out laughing. Just because an insubstantial line, she wanted to be Wagyu Beef. It was so silly, wasn’t it? Ridiculous, even.

And, I envy her.

Adab dan Teknologi

Akhir-akhir ini sering urut dada kalau dengar berita. Di sini ada yang bunuh diri di sana juga ada yang bunuh diri. Di sini ada yang depresi di sana ada yang gangguan jiwa.  Kok bisa ya? Sudah se-tidak bahagia itu kah hidup?

Tapi bukan itu yang lebih parah, menurut saya. Semakin kesini saya semakin ngerasa kalau musibah seseorang itu menjadi drama (hiburan) untuk orang lain. Dengan mudahnya akses komunikasi sekarang ini, setiap orang bebas aja gitu nimbrung ke masalah orang lain (terus gimana mau bahagia?). Bukan hanya itu saja. Sekarang, media seperti foto dan video mudah banget untuk disebar sehingga jadi viral. Seringkali hal yang viral tersebut justru banyak nggak baiknya.

Baru-baru ini, mungkin sudah banyak yang dengar musibah tentang dua orang kakak beradik yang bunuh diri dengan cara loncat dari sebuah unit apartemen di Bandung. Video yang menggambarkan detik-detik kematian mereka sudah menyebar kemana-mana. Dan nggak hanya satu versi saja loh! Kebetulan (dan menyesalnya) saya sempat lihat, saat ayah saya menunjukkan video tersebut yang dia dapat dari group whatsapp-nya. Beneran, habis itu saya menyesal banget nontonnya, bikin merinding. Saya nggak kebayang, gimana kalau yang ada di video itu adalah salah satu anggota keluarga saya. Pasti pilu banget hati keiris-iris.

Dari video-video yang beredar itu, jelas banget kalo yang nontonin kejadian itu banyak. Apalagi hari masih terang, orang-orang pasti masih banyak yang mondar-mandir berkegiatan. Dan dari sekian banyak orang yang melihat di lokasi, apa yang beberapa dari mereka lakukan? Merekam kejadian itu! (Kayak nggak ada hal yang lebih baik yang bisa dilakukan) Semacam kejadian tersebut adalah momen yang harus diabadikan, kayak pertunjukan sulap atau konser. Memang sih, akhir-akhir ini jargon no pic hoax itu kental bangetdi dunia perinternetan Indonesia. Tapi, apakah pantas hal tersebut direkam? Diabadikan dan di sebar? Continue reading “Adab dan Teknologi”

Road Traffic And Jinx

I think living in an environment full with superstitious culture does not make me a superstitious person. At least I don’t think I am. I guess…

People, especially elders, around me always tell me something superstitious such as not to sit in the doorway for that will cause you difficulties in finding a spouse, or make sure that the floor is cleaned thoroughly while sweeping  otherwise you’ll get a dirty bearded husband, or not to take pictures in three or not to sharpen your pencil too short or etc etc. I take those as a fun supplement, something that could be entertaining but not to be taken seriously. But when elders told me to, I would do it just in front of them, just to make them happy.

But there is one superstitious thing that I don’t exactly believe but I still hold on to it. It is something related to road traffic. We, Jakartans, have this love-hate relationship with road traffic. We hate it so much but we can’t help it that it happens ALL THE TIME! Our city has the worst traffic ever. Guess the expression is slowly turning into fact. (Don’t jinx it!) Continue reading “Road Traffic And Jinx”

Cancelled Plan

I love elephants. To go see elephants will always bring out the childish pleasure in me. There is something about them that attracts me. Probably, it’s their fluffiness and their intelligence that is kept underneath those layers of fat. But for me, just to be able to meet them and interact with them will make me ecstatic.

Last Easter holiday, I planned to visit the Elephant conservatory in Way Kambas, Lampung. I have been there three times and can never get enough of it. But, one thing led to another, the plan was cancelled. The last time, I went there was in 2013, which is almost 4 years ago. And after I came back from studying abroad in 2015, I have always planned to go there but the plans never meet their fruition. The last week plan was the most solid plan that I had, and the fact that it was also cancelled was quite upsetting. It was inevitable, though, but still I couldn’t help feeling bummed.

I had already pictured how it would be. I got to meet those baby elephants which are no longer babies anymore. Like, an orphaned elephant that I met the last time, named Yeti. She was a few months old when I met her, and now she must have been 4 years old. I wonder how big she has grown. And also another babies like Sugeng and Kelud, they must have been cheeky toddlers by now. I also remember the nice female elephant who smiles a lot named Karmila and the old lady who never get close to anyone named, Dona. As well as the naughty boys who always fight for bananas. Oh, how I miss them… and all the other elephant family members. I bet there are some new additional members that I have lost track. I love how they all have their own stories, not much different than observing people. Continue reading “Cancelled Plan”

I Want Flower Coffee

 

Few days ago, I saw this Buzzfeed Video titled: People Try Flower Coffee. And I was freakishly jealous!

 

 

All the drinks look so cute and so good and so sweet. I want it, too! But the problem is, the place that is called Bia Coffee is located in Los Angeles, USA, while I’m half a globe away in Jakarta, Indonesia. Ugh!

The question is: Flower or No Flower?

Flower, please. Continue reading “I Want Flower Coffee”

Adek Centil

Entah apa yang terjadi belakang ini, adik bungsu gue jadi centil banget. Dia jadi perhatian banget sama perawatan muka. Padahal, anak itu aslinya jarang mandi, apa lagi cuci muka. Terus, pada suatu siang bolong, pas dia buka kulkas dan menemukan sisa masker wajah brotowali, dia langsung minta dimaskerin. Sebelumnya banyak pertanyaan dulu sih. “Ini apa nih? Masker? Biar apa nih?”

Baru pertama kali maskeran, riweuh banget. “Cuci mukanya kapan?” “Habis ini diapain nih?” “Berapa lama nunggunya?” “Boleh sambil tidur, nggak?” dan seterusnya dan seterusnya dan seterus-terusnya. Astaga, bawel banget. Akhirnya setelah beres cuci muka, dia langsung nyamperin kita dan bilang, “Aku ganteng banget ya abis maskeran.” Duh, Dek. Gemes.

Gue pikir bakal berhenti sampai di situ aja. Rupanya lanjut, dong.  Sekarang tiba-tiba dia nanyain komedo. (gue juga nggak tahu dia belajar komedo dari mana) terus nanya, “Un, gimana ya cara ngilangin komedo? Pake pinset itu ya? Aku mau ngilangin komedo nih” (belajar dari mana lagi dia ngilangin komedo pake pinset?!). “Iya sih, dek. Tapi kalo pake pinset sakit dan harus di salon. Mending pake porepack aja.” Dan anak itu langsung nanya, “Uni punya?” gue jarang pake porepack, tapi gue inget kalau nggak lama pernah beli. “Kayaknya ada deh, tapi lupa dimana.” Harusny gue nggak bilang sih ya, soalnya abis itu dia langsung heboh nyari dan nyuruh mbak ART untuk nyari juga. Dan dia bahkan nggak tahu porepack itu bentuknya kayak apa. Tepuk jidat deh gue.

Continue reading “Adek Centil”

Kosakata Bahasa Indonesia

Sebagai orang Indonesia, apalagi orang Indonesia yang lahir dan besar di ibu kota, kosakata Bahasa Indonesia gue bisa dibilang, barbar banget. Gue lebih sering menggunakan kata serapan asing ketimbang kosakata Bahasa Indonesia sendiri, dan juga banyak dipengaruhi oleh bahasa daerah juga. Jadi tipikal kalimat yang biasa gue gunakan adalah, “Gadget sekarang udah canggih euy.” Semacam rujak bahasa lah istilahnya. Belum lagi bahasa-bahasa gaul yang setiap generasi pasti ada dan pasti beda. Kan ceritanya, Jakarta itu wajan campuran-nya (melting pot) Indonesia, jadi bahasa yang digunakan orang-orang di Jakarta sudah campur-campur.

Apalagi zaman sekarang, anak-anak bocah sudah dialihkan untuk lebih banyak berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Gue nggak masalah dengan orang Indonesia yang semakin mahir menggunakan bahasa Inggris, karena gue sendiri juga hobi bahasa Inggris. Malahan gue senang karena artinya orang-orang Indonesia makin mudah mengintegrasikan diri dengan masyarakat global. Tapi kalau melupakan dan menomerduakan bahasa Indonesia sih gue kzl juga ya.

Gue nggak paham berapa lama seharusnya KBBI menerbitkan dan mempopulerkan kata serapan dari bahasa asing. Tetapi menurut gue sebagai orang awam, dalam penerapan yang sekarang ini, terhitung lama. Misalnya, sudah berapa lama kita mengenal kata ‘efektif’ dan ‘efisien’ dan menggunakannya sebagai ‘bahasa baku’ padahal padanan asli-nya adalah ‘mangkus’ dan ‘sangkil’. Berapa orang dan berapa media sih yang menggunakan kedua kata tersebut? Gue sih nggak pernah lihat ya.

Begitu juga dengan kata-kata gaul yang terlalu luas digunakan, seharusnya juga diserap oleh KBBI dan dijadikan bahasa baku Bahasa Indonesia. Perkembangan bahasa harus cair dong, terlalu saklek juga nggak bisa membuat perbahasaan kita maju. Bahasa Inggris saja membakukan bahasa-bahasa gaulnya, misalnya seperti kata ‘selfie’ yang dijadikan salah satu butir di kamus Bahasa Inggris Oxford. Untungnya semakin lama, semakin banyak kata-kata baru yang masuk ke dalam KBBI, misalnya kata ‘gue’ dan ‘enggak’. Dan juga, sekarang semakin banyak bermunculan kata-lata baru untuk padanan bahasa asing yang dibakukan. Walaupun belum begitu popular di media khususnya warta media dan media hiburan lainnya (teks film bahasa asing). Bahkan tidak jarang media-media berbeda menggunakan penyerapan kata yang berbeda seperti yang masih belum saling sepakat dalam penggunaan kosakata.

Gue bukannya anti bahasa asing dan bahasa gaul ya, Continue reading “Kosakata Bahasa Indonesia”