Adab dan Teknologi

Akhir-akhir ini sering urut dada kalau dengar berita. Di sini ada yang bunuh diri di sana juga ada yang bunuh diri. Di sini ada yang depresi di sana ada yang gangguan jiwa.  Kok bisa ya? Sudah se-tidak bahagia itu kah hidup?

Tapi bukan itu yang lebih parah, menurut saya. Semakin kesini saya semakin ngerasa kalau musibah seseorang itu menjadi drama (hiburan) untuk orang lain. Dengan mudahnya akses komunikasi sekarang ini, setiap orang bebas aja gitu nimbrung ke masalah orang lain (terus gimana mau bahagia?). Bukan hanya itu saja. Sekarang, media seperti foto dan video mudah banget untuk disebar sehingga jadi viral. Seringkali hal yang viral tersebut justru banyak nggak baiknya.

Baru-baru ini, mungkin sudah banyak yang dengar musibah tentang dua orang kakak beradik yang bunuh diri dengan cara loncat dari sebuah unit apartemen di Bandung. Video yang menggambarkan detik-detik kematian mereka sudah menyebar kemana-mana. Dan nggak hanya satu versi saja loh! Kebetulan (dan menyesalnya) saya sempat lihat, saat ayah saya menunjukkan video tersebut yang dia dapat dari group whatsapp-nya. Beneran, habis itu saya menyesal banget nontonnya, bikin merinding. Saya nggak kebayang, gimana kalau yang ada di video itu adalah salah satu anggota keluarga saya. Pasti pilu banget hati keiris-iris.

Dari video-video yang beredar itu, jelas banget kalo yang nontonin kejadian itu banyak. Apalagi hari masih terang, orang-orang pasti masih banyak yang mondar-mandir berkegiatan. Dan dari sekian banyak orang yang melihat di lokasi, apa yang beberapa dari mereka lakukan? Merekam kejadian itu! (Kayak nggak ada hal yang lebih baik yang bisa dilakukan) Semacam kejadian tersebut adalah momen yang harus diabadikan, kayak pertunjukan sulap atau konser. Memang sih, akhir-akhir ini jargon no pic hoax itu kental bangetdi dunia perinternetan Indonesia. Tapi, apakah pantas hal tersebut direkam? Diabadikan dan di sebar?

Kita aja kalau punya mantan pacar yang putusnya rada nyakitin, rasanya mau dihapus aja itu memorinya. Ini gimana kalau punya anggota keluarga yang meninggalnya kurang baik? Melihat detik-detik menyakitkan itu dijadikan bahan tontonan orang banyak. Mungkin rasanya seperti luka yang diinjak terus dan terus lagi.

Bukan hanya itu aja sih ketidak beradaban masyarakat kita dalam menyikapi musibah orang lain. Dulu banyak banget beredar foto-foto mengenaskan korban-korban yang meninggalnya kurang baik. Mungkin pernah ingat berita tentang seorang bayi yang dimutilasi dan foto mayat beliau yang berceceran itu menyebar dimana-mana. Si Ibu dari bayi itu pernah memberikan pernyataan di media, “saat saya melihat anak saya seperti itu, rasanya saya sudah mati.” Kemudian beberapa ‘pencari sensasi’ memajang-majang dan menyebarkan foto almarhum anak itu kemana-mana. Kira-kira bagaimana perasaan Ibu itu kalau dia tidak sengaja melihat foto almarhum anaknya itu terus? Apa mereka ingin Ibu itu mati berkali-kali?

Hanya sekedar menyebar berita, tekan tombol share,  memang hal yang terlihat sangat innocent. What worse could happen sih? Begitulah cara pikir orang-orang ignoran menurut saya. Mereka kadang lupa kalau orang yang kena musibah itu manusia juga, bukan hanya sekedar objek berita. Saya jadi ingat beberapa tahun lalu, saya melewati sebuah tempat kecelakaaan saat menaiki taksi. Kecelakaan tersebut masih sangat baru, polisi masih belum datang dan korban masih tergeletak berlumuran darah dengan seorang temannya yang meraung-raung nangis di sebelahnya. Melihat itu, saya kontan tutup mata dan istigfar-istigfar selama perjalanan. Tapi si supir taksi ini bikin saya kaget setengah mati. Dia bilang, “Wah, saya sudah sering melihat yang kayak gini, Mbak. Mau difotoin?”

“HE? Buat apa?!” suara saya agak squeaky karena nggak nyangka. “Ya buat dikasi tau keorang-orang, Mbak.”

Huff. Terus saya harus gimana? Sudah nggak sanggup ngomong apa-apa. Istigfar aja banyak-banyak.

Jadi tuh yang lebih penting pesannya apa dramanya sih? Memang pasti selalu ada hikmah dan pesan dibalik setiap musibah. Tapi toh ya, dramanya nggak perlu dinikmati juga kan kalau malah melukai orang yang terkena musibah. Bisa kan kabarin orang terdekat untuk berhati-hati karena ada kecelakan seperti itu? Nggak perlu kan foto-fotonya ikutan disebar juga? Serius deh, nggak ada manfaatnya sama sekali nyebarin foto-foto dan video-video yang disturbing seperti itu.

Ya, teknologi. Si pedang bermata dua yang dapat menghunus musuh dan teman sekaligus. Mungkin nggak usah jauh-jauh mikirin bagaimana teknologi dapat menyelamatkan umat manusia. Pikirin aja dulu bagaimana teknologi nggak melukai orang lain. Berbuat baik lah terhadap sesama. Begitu kan seharusnya yang selalu diajarin di PPKn? (ketahuan generasi jadul)

Coba deh lebih bijak menggunakan teknologi. Asal lihai menggunakannya, si mata pedang itu bisa diarahkan ke sasaran yang tepat, kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s