Langit Merah

Kakak perempuanku mengantarkanku ke Spaceport[1]. Folds[2] yang kami kendarai melewati segerombolan siswa-siswa lain yang bergerumul berjalan menuju tempat yang sama. Dengan raut bersemangat, mereka juga membawa tas dan perbekalan untuk enam bulan sepertiku. Tas-tas kami dilengkapi dengan tag warna-warni yang menandakan tujuan field trip kami. Tag tasku berwarna merah menunjukkan tujuan Planet Mars, abu-abu Bulan, merah strip putih bulan Phobos dan Deimos, cokelat satelit Ceres, dan favoritku jingga Planet Venus.

Kenapa planet Venus itu favoritku? karena siswa-siswa yang dapat melakukan kunjungan Lapangan ke Venus hanya siswa-siswa pilihan. Seperti kakakku, Awan, dan mungkin juga dia. Sejujurnya aku kecewa mendapatkan Mars sebagai tujuan field trip-ku. Selain hal itu menunjukkan bahwa aku tidak cukup pintar, kemungkinan aku bisa menghabiskan liburan berkualitas bersamanya pun juga hilang; 3 bulan di dalam Eve Emporium II[3] dan 3 bulan lagi di Planet selain Bumi.

“Langit, itu Rona!” kata kakakku tiba-tiba, menunjuk suatu titik, sambil tertawa jahil.

Kakakku tahu aku sudah lama menaruh hati pada Rona, gadis cantik pujaan hatiku. Dengan tersipu aku menoleh ke arah yang ia tunjuk. Aku sungguh tidak bisa menahan senyum di saat aku melihat tag-nya berwarna merah. Wajahku merona merah.

Selama 17 tahun hidupku, aku belum pernah menginjakkan kakiku keluar Bumi. Satu setengah bulan lagi, untuk pertama kalinya aku akan menginjakkan kakiku di luar Bumi, tepatnya di planet merah, Planet Mars. Dan aku akan mengalami momen bersejarah itu bersamanya.

 

Eve Emporium II sungguh luas. Armada ini dilengkapi dengan Dek Kamar Tidur, Dek Pelayanan, Dek Kemudi, Dek Rekreasi dan Dek Kelas-Kelas Belajar. Dengan adanya field trip ini, bukan berarti kegiatan belajar-mengajar di kelas diliburkan. Mereka bahkan memiliki ruang-ruang laboratorium dan juga kelas ujian! Akan ada ujian akhir semester sebelum menyentuh tanah Bumi nanti, bayangkan! Untungnya perjalanan ini lancar dan menyenangkan, sehingga tanpa kusadari hanya tinggal dua minggu lagi kami akan mendarat di Spaceport Eros, Mars.

Melihat Rona di kelas membuatku bertanya-tanya; bagaimana bisa ia tidak ke Venus? Dengan otak sepintar itu, rasanya sekolah ini melakukan kesalahan. Namun kesalahan itu adalah keberuntunganku, jadi tidak masalah.

Sehabis kelas, aku memberanikan diri untuk mengajaknya istirahat makan bersama di Dek Kantin. Untungnya ia mengiyakan ajakanku. Bukannya baru kemarin aku mengenal Rona. Aku ingat betul sewaktu aku kecil, jendela unit di depan jendela kamarku yang tadinya lama tak berpenghuni tiba-tiba terbuka, kemudian muncullah seorang anak perempuan seumuranku tersenyum menyapaku. Walaupun tidak terlalu dekat, kami selalu sekolah di tempat yang sama. Tidak ada masalah untuk ngobrol dengannya, karena Rona adalah gadis yang ramah dan disukai banyak orang. Namun, semenjak aku menyadari  aku menyukainya, ngobrol dengannya menjadi sulit.

Waktu istirahat makan kami yang harusnya menyenangkan menjadi sedikit terganggu oleh kedatangan segerombolan anak laki-laki yang selalu mencari masalah. Mereka duduk persis di sebelah meja kami. Suara bahak tawa mereka yang menganggu itu membuat telingaku panas.

Tiba-tiba kami mendengar laki-laki yang kukenali sebagai Bara, ‘pemimpin’ gerombolan itu, menyeletuk dengan sombongnya “bisa apa sih orang-orang Mars itu?! Mereka hanya pengungsi bodoh yang mengotori Bumi. Walaupun mereka menempatkan mata-mata terbaik mereka di Bumi, sampai kapanpun mereka tidak akan bisa menguasai Bumi. Hahaha!” lalu ia tertawa dengan pongahnya, membuatku ingin menancapkan sepatuku dalam mulutnya untuk membungkamnya.

Walaupun penduduk pertama Mars memang merupakan pengungsi korban Perang Dunia V yang terjadi lebih dari seabad yang lalu, bukan berarti mereka kaum buangan. Penduduk Bumi-lah yang bodoh telah menyebabkan hampir setengah bagian Bumi menjadi pusat radiasi dan tidak layak ditinggali sehingga terjadi kepadatan penduduk yang tidak masuk akal pada masa itu.

Wajah Rona yang tadinya tersenyum berubah menjadi masam. Aku mencoba untuk tidak mengacuhkan mereka, namun aku terkejut melihat Rona serta merta berdiri menghampiri gerombolan itu. “Heh! Jaga omongan kalian!” dengan tegas ia menghardik mereka.

“Hei, kau orang Mars ya? Buat apa kau membela mereka?” tantang si congkak Bara. Di belakangnya, salah satu anggota gerombolan itu memanas-manasi, “tentu saja dia orang Mars, lihat saja rambutnya merah. Hahaha!”

Dengan sigap aku menahan Rona disaat ia hendak melayangkan tinjunya ke Bara. Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar karena amarah. Sedikit mereda, ia buru-buru berbalik meninggalkan kantin. Kemudian aku menatap gerombolan itu penuh kekesalan. “Kalian sungguh bermasalah.”  Kataku yang langsung dicibir mereka. “Jangan sok jagoan kau, Langit! Hati-hati, mata-mata Mars itu memang benar-benar ada.”

Setelah kejadian itu, aku mencoba mencari Rona kemana-mana tetapi tidak berhasil menemukannya. Hingga beberapa hari kemudian, saat aku ingin menyendiri di Dek Observasi, aku menemukannya duduk sendiri di sana. Kami saling bertatapan, dan aku melihat kesedihan di matanya. Kuterka, kesedihan itu akibat dari perbuatan Bara dan gerombolan babonnya waktu lalu.

“Hei, jangan kau dengarkan kata-kata babon-babon usil itu. Mereka hanya tidak bisa membayangkan kerasnya hidup di lingkungan yang ter-terraformasi.” Kataku, sambil duduk di dekatnya. “Ya walaupun harusnya mereka sedikit mengerti, kan mereka juga siswa Teknik Terraformasi seperti kita.”

Rona sedikit tersenyum, “haha, tidak. Apa kamu juga berpikir aku mata-mata Mars?”

Tentu saja tidak mungkin! Seorang seperti Rona mungkin mata-mata dari Surga, bukan dari Mars. “Tentu saja tidak. Walaupun rambutmu terlihat agak merah. Hahaha.” Kataku yang dibalas dengan tinju pelan dari Rona. Kemudian kami tertawa.

“Kamu memang selalu baik, Langit.” Katanya. Kata-katanya yang membuat hatiku membengkak kegirangan.

 

Kemudian aku tidak melihat Rona lagi hingga waktunya mendarat. Saat kami berkumpul di Dek Pendaratan untuk bersiap-siap mendarat, Rona berdiri di sebelahku. Tiba-tiba ia menggenggam tanganku. Lalu aku bisa merasakan tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat.

“Kamu kenapa?” tanyaku panik, saat aku menyentuh wajahnya dan merasakan keringat dingin bercucuran. Dia hanya bisa menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan. Lalu tiba-tiba pesawat terguncang hebat dan kami berjatuhan. Tidak lama, segerombolan orang dengan baju hitam dan senjata api menyerbu masuk.

Aku merasakan perutku robek tertembak peluru senjata api. Disaat aku hampir kehilangan kesadaran aku melihat Rona berteriak, ditarik oleh salah satu gerombolan itu “Langit!” teriaknya. “Rona!” teriakku bisu dan aku hanya bisa menatap nanar hingga hilang kesadaran.

 

Aku terbangun oleh bau anyir dari darah yang berceceran di sekelilingku dan entah berapa lama aku sudah terkapar di sini. Aku berada di tumpukan mayat-mayat yang tadi ditembaki di dalam pesawat. Aku menggeliat mencoba berdiri, kemudian wajah Bara yang naas tidak bernyawa di depanku membuatku terlonjak. Keterkejutan ini membuatku merasa tidak yakin aku masih hidup, hingga aku merasakan pedih yang amat sangat dari perutku yang robek. Pikiranku langsung teringat akan Rona dan dengan sekuat tenaga aku berdiri mencoba mencarinya, berharap dengan sangat dia juga masih hidup sepertiku.

Ruangan ini hampir gelap gulita, namun aku melihat sedikit cahaya menyembul dari balik pintu yang tidak tertutup rapat. Instingku menuntunku untuk mencari tahu apa yang ada di balik sana. Dengan susah payah aku menyeret tubuh lemahku kesana, hanya untuk menemukan sebuah Datatube[4] yang terpasang menunjukkan gambar ledakan-ledakan ditujukkan ke Bumi dan membuat hatiku hancur. Suara ledakan itu kemudian disahuti oleh teriakan gegap gempita penuh kepuasan oleh yang kutebak adalah pasukan yang tadi menyerang kami.

Lalu aku mendengar suara seorang laki-laki berkata, “Jerih payahmu selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil, Rona. Selamat!” Rasa perih di perutku menjadi berlipat-lipat. Dengan ceroboh aku membuat pintu itu berderit. Derap kaki riuh berdatangan. Untukku.

Aku rasa aku sudah mati disaat aku melihat mata yang berkilat-kilat itu berada di hadapanku. Mata yang dulu teduh kini menjadi buas. Aku baru menyadari bahwa rambutnya benar-benar merah, seperti langitnya yang juga merah, seperti darahku yang juga merah mengalir ke tanah. Rona yang merah.

Aku sempat membaca mulutnya sebelum semuanya hitam, sebelum kepalaku dilewati timah panas yang memecah tengkorakku, kemudian jatuh berlumuran darah.

“Maaf, Langit.”

 

 

[1] Spaceport: Stasiun luar angkasa

[2] Folds: sejenis mobil yang bisa dilipat

[3] Eve Emporium II: Armada luar angkasa Bumi-Mars khusus untuk keperluan akademis

[4] Datatube: televisi

Advertisements

6 thoughts on “Langit Merah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s